Kamis, 24 Desember 2015

Ternyata Ego itu Bisa Menjadi Sesuatu yang Positif

belajar dari egois


Minggu lalu gue dan beberapa temen sempat membahas sedikit tentang topik Ego. Dan itu benar-benar bikin gue mikir semikir mikirnya, terlebih setelah membaca komen dari teman-teman di posting yang gue buat saat itu. Dimana ego gue saat ini? Apa yang sebenarnya hal yang ego ajarkan ke gue? Apakah gue mendapatkan pembelajarannya? bagaimana cara untuk mengatasi egois?

Ini real banget karena gue baru mengalaminya minggu lalu ketika seorang teman mau meminjam mobil gue. Ia sms gue sebagai berikut: “Hari Kamis dan Sabtu aku pakai mobil ya.”

Hmm, interesting. Memang harapan gue ketika orang mau meminjam mobil itu adalah kira-kira seperti ini: “Hai Ka, hari Kamis dan Sabtu besok bolehkah aku pakai mobilnya? Thanks ya.”

Ada ego yang keluar di diri gue ketika gue merasa bahwa dia ‘kurang sopan’.

Lalu, di hari Kamis, gue juga gak yakin dia akan tetap pinjam mobil atau gak padahal sudah jam 11.45pm. Setelah gue sms dan belum dijawab setengah jam kemudian, mobil gue pakai. Oh ternyata, jam 12:48 gue dapat sms dengan jawaban “Jadi. Kenapa sih? Aku kan udah bilang mau pake mobil. Kalo emang ga boleh bilang dari awal jadi aku cari option lain. Udah panggil supir, udah siap berangkat, udah telat, taunya mobilnya gak ada.”

Ini jawaban gue, “Makanya aku tanya, karena aku gak tau jam berapa pakenya. Karena ga ada kabar jadi aku pake. Yah maaf deh. Toh kamu bisa telpon juga. Aku cuma di kemang kok. Ya udah, jadi sekarang maunya gimana?”

Gue banyak belajar tentang EGO dari kejadian ini. Kejadian yang sederhana, tetapi banyak sekali yang bisa gue pelajari. Berikut adalah 10 hal yang ego ajarkan ke gue:



1. Untuk tidak selalu menunjukkan bahwa kita benar dan orang lain salah.



EGO itu paling terlihat dari kebutuhan kita untuk merasa benar. Ya iyalah, gue gak merasa salah ketika menggunakan mobil itu. Seperti dia gak merasa bersalah ketika menyampaikan sms itu. Pertanyaannya, sejauh mana kita memaksakan bahwa kita memang yang benar?

Di sini gue bisa lebih menurunkan ego gue dengan mengucapkan “Maaf terlebih dahulu.” Di sini gue kesandung dengan memberikan alasan terlebih dahulu. Yang sebaiknya gue katakan adalah “I am so sorry, Dinda. Gue pikir gak jadi karena gak dapat kabar lagi. Sekarang gue cuma 10 menit dari rumah kok. How can I help?”

2. Menunjukkan Compassion dan Bukan Judgement.

EGO mengajarkan kita untuk lebih mempraktekkan Compassion. Di situasi ini, mudah banget untuk gue malah menyalahkan dan mengkritik teman gue ini. Mbok ya mobil siapa juga. “Gila ya dia, mobil-mobil siapa juga, gak ada konfirmasi juga, dia juga gak bilang mau pake jam berapa, malah gue yang dimarahin.” Haahahahhaha. Itu respon yang normal banget kan ya.

Setiap kali kita menyalahkan, mengkritik dan menjelekkan orang lain itu adalah EGO. Sayangnya kita suka gak sadar bahwa yang kita lakukan itu sedang menyalahkan, mengkritik ataupun menjelekkan orang lain.

Kadang kita tidak sadar ketika menumpahkan kekesalan di social media itu kita sedang melampiaskan ego kita. Seperti, “Gila ya tuh orang, gak pake otak apa, semakin ketemu semakin kehilangan respect, dasar memang orang bermuka dua.” Etc. Isssshhh.

Mempraktekkan compassion di sini seperti juga mempraktekkan kerendahan hati. Untuk tidak langsung mengkritik dan menyalahkan tetapi mencoba memahami orang tersebut…
Kenapa dia seperti ini ya?
·         Apakah dia sedang mengalami sesuatu yang sulit?
·         Worth it gak untuk gue malah menyalahkan dia?
·         Worth it gak untuk gue nambah masalah?
·         Worth it gak untuk menunjukkan bahwa kita benar dan mereka salah?

Gue belajar, MOST OF THE TIME, gak worth it kok. So, gue mesti berterima kasih sama orang-orang dan situasi yang memencet tombol-tombol yang bikin gue marah, kesel, kecewa, karena itu berarti gue sedang harus mempraktekkan compassion.

3. Mulai Menyadari Bahwa Kita pun Punya EGO.


Dosa terbesar kita adalah kita tidak sadar bahwa EGO sedang menghalangi kita. Karena setiap kali kita marah, kecewa, sedih ataupun sebel, reaksi pertama kita adalah “Ini salah orang lain. Gak ada yang memperhatikan gue. Gue selalu aja jadi yang menderita. Gak ada yang perhatian sama gue. Dll.”

Secara tidak sadar, kita memposisikan diri kita sebagai VICTIM. The world is against us. Seperti mengatakan “Kenapa sih kamu selalu nyusahin aku.” Padahal, saat itu, karena fokusnya seberapa menderitanya diri gue, itu adalah EGO, karena fokusnya ke gue. Dan akhirnya…..

4. Mulai Memperhatikan Kata-kata yang Kita Ucapkan dan Perilaku Kita Sendiri.

EGO mengajarkan gue juga untuk memperhatikan kata-kata yang gue ucapkan. Sejauh mana gue menjadikan diri gue victim. Sejauh mana gue menyalahkan orang lain. Sejauh mana gue menghakimi orang lain. Sejauh mana gue merasa lebih baik atau lebih benar dari orang lain. Sejauh mana gue terlibat dalam sebuah argumen yang ingin menunjukkan ke orang lain bahwa dia salah dan gue benar. Issssh, ini susah-susah gampang.

Ini makanya kejadian mobil ini keren banget buat gue untuk gue ngaca ke diri sendiri. Dari kalimat gue pun gue merasa masih ada EGO. Walau bangga dikit juga karena gue gak mengeluarkan kalimat “Ya kamu juga gak bilang mau pake jam berapa kan? Jangan salahin gue dong kalo pake mobil!” <<— rese sih ini.

5. Cepat Meminta Maaf.

EGO mengajarkan gue untuk cepat meminta maaf. Gue mencoba mengingat, apapun yang terjadi, terlepas dari siapa yang salah, meminta maaflah.

Ini mengingatkan gue akan sebuah kutipan… “Apologizing does not always mean you are wrong and the other person is right. It just means you value your relationship more than your ego.” 
 Bahwa meminta maaf itu bukan berarti kita salah dan orang lain benar. Ini hanya menunjukkan bahwa kita lebih mengutamakan hubungan dibandingkan ego kita sendiri. #jleb

Keren ya.

6. Mencoba Untuk Tidak Defensif. Mengurangi Penggunaan ‘Alasan’ dan Kata ‘Tapi’.
EGO mengajarkan gue untuk not to take things personally. Untuk tidak defensif. Setiap kali gue merasa defensif, merasa sakit hati, merasa diserang, merasa terpojok, itu Ego sedang keluar. Nice.

Even ketika seseorang mengatakan “Ika, elo tuh sekarang bitter banget ya.” Gue belajar untuk tidak mengatakan “Ya tapi kan gue ____”. Malah jawaban gue adalah “Oh ya? Really? In what ways?”

Coba hitung berapa kali kamu memberikan alasan, mengatakan TAPI dalam kalimat-kalimatmu. Atau hitung orang lain mengatakan TAPI. Ini salah satu pertanda bahwa kita defensif.

7. Memonitor Rasa Marah, Sirik, Gak Suka.

Ada teman yang pernah bilang ke gue bahwa “Terkadang ketika gue gak suka dengan seseorang, sebenarnya secara gak sadar gue sirik aja sama dia.” Itu keren banget!

Dan setiap hari, gue mencoba memonitor emosi yang gue rasakan. Gue merasa, setiap kali gue ke-trigger energi negatif, itu sebenarnya EGO diri gue yang sedang mengambil alih. Jadi, sebenarnya gak bukan salah orang lain setiap kali kita marah, sedih, kecewa, sirik, kesel dan semua rasa tersebut. Itu ego kita sendiri saja yang sedang kesentil.

8. Memonitor Rasa Minder.

Di sisi lain, ego gak selalu tinggi kok. Kadang terlalu rendah. Membuat kita merasa minder maupun gak-enakan. 
“Kenapa ya gue cuma gini-gini aja.” 
“Kok gak ada yang mau jadi pacar gue ya.” 
“Gue sih gak mungkin jadi orang sukses.”

Nah minder ini juga lucu, kadang Ia membuat kita jadi merendahkan diri, terkadang membuat kita meninggikan diri. Seringkali juga, karena minder (atau insecure) kita malah jadi arogan.

Contohnya? Menggemborkan kita kenal dengan orang terkenal siapa sajaaa. Menggunakan banyak hal-hal yang branded walau uang pas-pasan.

9. Lebih Baik Terlambat Dibandingkan Tidak Sadar Sama Sekali.

Kalau ditanya, sering kesandung ego kah? Jawabannya ya sering sekali. Karena di awal-awal, memang sadarnya telat. 
Dan gue belajar, this is okay. Tinggal pertanyaannya, setelah gue ‘sadar’ apakah gue mengkoreksi perilaku gue? Apakah gue meminta maaf? Apakah gue memperbaiki hubungan?

10. Belajar Membedakan Antara Pasif, Pasif-Agresif, Agresif dan Asertif.

Ini susah sekali, Pasif itu seperti minder, gak enakan (I am not okay, you are okay). Agresif itu seperti arogan (I am okay, you are not okay.)

Naaah, pasif agresif ini niiiih… Contohnya:

  •         Komplain ketika ada permintaan dari oang lain dan bukannya menunjukkan perasaannya langsung.
  •         Sengaja berbuat buruk.
  •        Berfikir bahwa orang sengaja memojokkan dia.
  •         Selalu merasa tidak adil.
  •         Mengkritik dalam bentuk pujian (sarkas).
  •        Memberikan silent treatment.

Asertif menunjukkan ego yang ‘sehat’ dan kita tahu, terkadang kita asertif saja sering kesandung di agresif.

Terlepas dari EGO sering mendapatkan konotasi negatif, gue belajar, Ego itu bisa menjadi sesuatu yang positif dan negatif. Ego itu positif ketika memberikan kita rasa percaya diri, membuat kita lebih asertif dan berani menyuarakan pikiran kita. Di sisi lain, ego itu menjadi negatif ketika kita secara sadar atau tidak sadar merendahkan orang lain.

Belajar ngaca. Belajar introspeksi diri. Belajar sadar diri. Belajar jujur ke diri sendiri. Itu semua yang gue pelajari ketika mempelajari ego.

Seperti kata Marianne Willliamson, “The ego seeks to divide and separate, Spirit seeks to unify and heal.” Selama gue masih merasa terpisah dan berbeda dari orang lain, itu masih ego yang berbicara.

Review Tentang Film Disney Terbaru The Good Dinosaur

Halo semua! Apa kabar kalian pejuang yang masih mencoba berjuang untuk mengalahkan rasa takut? gue harap semangat kalian baik baik saja dan rasa takut kalian sedikit demi sedikit bisa kalian lewati. Kok dilewati sih? yap karena tadi gue nonton film The Good Dinosaur dan dari film ini gue banyak mendapat pelajaran tentang apa itu rasa takut dan apa yang harus dilakukan untuk rasa takut itu.



Film dari disney pixar ini wajib ditonton bagi kalian yang masih belum bisa untuk melepaskan rasa takut dan kalian yang suka menikmati rasa takut dan sering disinggahi rasa ragu untuk keluar dari zona nyaman. Yang menurut gue zona nyaman itu adalah tempat yang paling membosankan! a place for the fuck*n loser. Zona dimana orang yang suka bermain dengan dirinya sendiri, berkhayal tentang hal yang indah dan namun tidak pernah melakukan hal yang bisa membuat mimpinya menjadi kenyataan. Yes just dream and nothing action, just think think and more fuck*ng think without action. Wake up bro YOU ARE WRONG! Hidup ini gak kayak pilem india yang endingnya selalu bahagia.


Oke langsung aja balik lagi ke topiknya, Film ini menceritakan tentang Arlo seekor dinosaurus yang menetas paling terakhir diantara 2 saudaranya. Dia adalah dinosaurus paling kecil dan lemah diantara dua saudaranya yang mencoba untuk mendapatkan tanda pengakuan diantara keluarganya yaitu tanda yang dibuat dengan telapak kaki dan ditempelkan dilumbung atau tempat penyimpanan makanan untuk musim salju juga untuk menghindari hewan pencuri makanan lainnya.



Namun untuk meletakkan jejak kaki dibatu itu tak semudah yang dibayangkan Arlo karena jika ingin mendapatkan tanda dibatu itu dia harus melakukan sesuatu yang besar dan berarti tentu saja juga harus melewati rasa takutnya. Ditambah lagi kedua saudaranya sudah mendapatkan tanda itu yaa jadinya dia tambah termotivasi untuk melakukan hal yang tidak biasa dan berarti.

Karena melihat Arlo yang masih sering takut dan ragu untuk melewati rasa takutnya sang ayah mengajaknya untuk mngubah pola pikir Arlo. Arlo diajak untuk melihat kunang-kunang pada malam hari dan memperlihatkan bahwa sebenarya dibalik rasa takut itu ada hal indah yang tidak kita ketahui.



Lalu Arlo diberi tugas untuk mejaga batu lumbung penyimpanan makanan dan disinilah cerita dimulai. Arlo menangkap seorang anak yang sering mencuri makanan keluarganya. Namun ternyata arlo melepaskan anak teresebut, sang ayah pun marah dan mengajaka Arlo untuk Mengejar pencuri kecil tersebut. Ditengah perjalanan ada badai besar yang datang dan ayahnya meninggal karena badai itu.

Arlo yang merasa sedih dan menganggap semua itu adalah salah anak kecil pencuri makanan keluarganya. Dan  sekali lagi Arlo menangkap anak itu namun dia jatuh kedalam sungai dan disinilah Arlo memulai petualangannya dan belajar melewati rasa takut tersebut yang akhirnya Arlo bersahabat dengan anak kecil pencuri makanannya yang diberi nama spot. Dalam perjalanan pulangnya spot lah yang membantu Arlo sampai akhirnya Arlo sadar bahwa ternyata banyak hal yang mampu dia lakukan jika dia berani untuk melewati rasa takut itu. 



Belum lagi cerita si Arlo yang bertemu dino jenis Tyrant lizard atau T-rex yang membuat perjalanan menaklukan rasa takutnya semakin menarik.




Penasaran? Tonton aja filmnya!

Rabu, 07 Oktober 2015

Perlu Jalan Jauh


Seperti biasanya pagi ini, pagi yang sama dan masih tempat yang sama daaaan masih melakukan kegiatan yang sama yaitu tidur yes sleep. Why? ya karena semenjak tamat dari SMK gue melakukan kegiatan yang gue suka ya gak jauh2 dari yang namanya komputer, yap ngeblog kegiatan sehari2 gue untuk mencari nafkah dan ngejalanin hoby yang gue suka.

But setelah kurang lebih hampir 6 bulan melakukan kegiatan ini gue ngerasa ada hal aneh yang timbul saat gue begadang malam dan tidur saat matahari mulai menampakkan diri dan terbangun lagi sore hari lalu? yap kembali lagi menatap komputer. Perasaan aneh yang tiba2 muncul itu biasa kita sebut dengan bosan jenuh lelah pokoknya perasaan saat lo ngerasa hari2 lo gitu2 aja dan lo mulai kehabisan inspirasi mulai merasa  kesepian sendirian yaiyalah namanya lo juga jomblo pasti kalian yang tau gue jomblo pasti mau bilang kayak gitu. Tapi jujur dari hati yang paling dalam mungkin lebih dalam dari cinta dan sayang gue sama mantan cie mantan eaalah. hahaha oke iya bener gue jomblo karena gue punya alasan yeeee alasan mulu bilang aja gak laku hahaha. Yap gue memang pengen menjalani masam uda tanpa ada yang ngatur2 gue gak ada yang ngomel2 kalo gue pulang malem. Gak yang ngelarang2 gue mau keluar ataupun maen sama siapa. Gak ada yang nelfon saat gue lagi asik2 ngumpul sama temen dan gak ada yang lebay2. Tapi bukannya gue gak mau pacaran yap suatu saat pasti gue butuh tapi gak sekarang!

Oke kembali ke topik jangan lama2 cerita mantan dan status jomblo karena kalo ngebahas itu gak akan habis2! "Perlu Jalan Jauh" oke 3 kata itu tiba2 muncul dipikiran gue turun ke hati dan merasuk ke jiwa eaaa. Jalan jauh yang gue maksud ini aalah kayaknya gue butuh refreshing beberapa hari untuk membersihkan otak gue dari hal2 yang buat inspirasi gue hilang dan jati diri yang gue rasa semakin kesini semakin samar2 dan mungkin bisa tak terlihat karena gue terlalu sibuk kerja dan mencari uang sehingga gue lupa ada hal yang lebih penting. Yap hal penting yang gue maksud disini adalah membiarkan diri gue dekat dengan alam bukan didepan monitor terus karena yang gue butuhin sekarang adalah perjalanan jauh untuk membuat fresh kembali pikiran gue.

Dan ditambah lagi ada beberapa hari ini ada hal ajaib yang gue rasa memang datang tanpa gue rencanain. Akhir2 ini dimanapun gue duduk ngumpul dan sampek saat gue kerja pun gue merasa ada sesuatu yang kuat yang mendorong gue untuk bisa jalan jauh untuk beberapa hari. Pertama gue dapet pin bbm temen lama yang sekarang udah disolok dan dia hobi adventure kayak mendaki gunung gitu dan doi ngajakin gue buat mendaki sama2 bulan desember ini tepatnya saat malam tahun baru. Yang kedua malam itu setelah selesai ngerjain blog gue iseng mau nonton film dan karena gak tau mau nonton film apa yang bagus gue cari di google dengan kata kunci "film inspirasi" dan keajaiban itu muncul lagi gue ketemu blog yang membahas tentang "14 Film Inspirasi Perjalanan".



Diantara beberapa film yang direkomendasikan blog tersebut gue milih untuk nonton film INTO THE WILD ya bener film tahun 2012 udah lama sih tapi old but gold.Film yang menurut gue ngejelasin bahwa uang itu tidak segalanya dan bahagia dan kebahagian itu adalah saat lo bisa berbagi dan banyak lagi pelajaran hidup yang bisa diambil dari film itu yang penasaran nonton aja deh dijamin gak nyesel nontonnya gue aja nyesel kenapa baru sekarang nontonnya. Dan keajaiban yang ketiga adalah ketika gue jemput temen gue kerumahnya saat itu juga adiknya maen komputer jadi gue liatin dan dia buka film kayak biografi dokumenter gitu judulnya EVEREST ya dari judulnya film ini pasti tentang adventure, bener film ini nyeritain tentang kelompok pendaki yang mencoba mendaki gunung everest yang kalo gak salah gunung tertinggi didunia.

Film Into The Wild Yand Direkomendasikan Blog www.thelostraveler.com


Dan masih banyak moment2 lain yang kayaknya ngedorong gue buat melakukan perjalan atau mungkin ini karena perasaan gue aja yang udah lama gak jalan2. Terserah mau perasaan gue aja ataupun apalah yang penting tahun 2015 ini gue harus ngelakuin hal yang belum pernah gue lakukan sebelumnya dan make different thing. Rencananya tahun baru ini gue mau nurutin ajakan temen lama gue yang ngajak mendaki gunung dimalam tahun baru, yap moment yang pas dimalam pergantian tahun. Karena gue ngerasa ada hal yang hilang dari diri gue dan gue Perlu Jalan Jauh!

Oiya ini ada beberapa quote dari film Into The Wild yang gue suka lets cekidot!





Sabtu, 23 Mei 2015

Jangan Jadi Pria Yang Baik!!

Jangan Jadi Pria Yang Baik


Apakah lo terbiasa mengandalkan sikap dan kepribadian yang jujur, setia, baik hati, perhatian, tidak berani menyakiti, selalu ada untuk dia, sering traktir, sering telpon atau SMS untuk menanyakan kabar tentangnya dan sebagainya?

Well, if you have those kinds of personalities inside your mind, then I want to congaratulate for you a lot of failures in getting romantic connection with women.

Gw berani jamin jawaban yang lo dapat akan bervariasi seputar, “Aduh, kita temenan aja ya,” “Gua takut kalo nanti kita pacaran lalu kita putus kita gak bisa jadi temen lagi,” “Elo udah akrab banget, gue anggap kayak kakak sendiri,” “Maaf ya, selama ini gua gak ada perasaan apa-apa sama lo.”

Intinya satu, dia hanya menginginkan lo sebatas teman baik saja.

Dan itu seharusnya tidak mengejutkan karena lo sendirilah yang memaksanya untuk merasa demikian lewat sikap lo yang terlalu murah dan baik padanya (baca : MR.NICE GUY)

Pelajaran hari ini adalah lo tidak dapat memenangkan hati wanita dengan cara menjadi pria yang sok tulus, baik dan perhatian, atau istilah pendeknya, Nice Guy.

Coba lihat di luar sana, berapa banyak pria yang tidak bergaya Nice Guy seperti di atas, tapi bisa mendapatkan wanita yang diinginkan, atau bahkan sering bergonta-ganti. Seberapa sering lo melihat sahabat yang selalu jadi biang masalah justru menjadi magnet bagi wanita-wanita di sekeliling mereka?
Gw bukannya mau mengajak lo menjadi berandalan muda dan mengubah penampilan seperti preman pasar yang berbadan penuh tato disertai tingkah laku mereka yang kasar.

Lo tidak perlu mendadak bersandangkan pakaian yang penuh dengan rantai serta jeans, atau celana penuh dengan sobekan seperti seorang pengemudi sepeda motor yang baru jatuh dari kendaraannya.

Yang gw ingin sampaikan adalah: “lo akan terperangkap menjadi Teman Baik sang wanita jika lo terus melakukan sikap-sikap yang gw sebutkan di atas.”

Mengapa hal itu bisa terjadi?


Sounds a little bit nonsense, tapi seorang pakar psikolog terkenal mengatakan, “Berilah ketidakpastian untuk mendapatkan kepastian.”

Manusia cenderung baru merasa sesuatu berharga ketika mereka sudah kehilangannya. Ketika lo berusaha menjadi seorang Nice Guy terhadap wanita yang lo sukai, maka lo telah memberi kepastian kepada dia bahwa lo sangat tertarik dengannya. lo terlihat rela melakukan apa saja demi hatinya senang dan bersedia menerima lo sebagai kekasihnya.

Lo telah membuat sebuah garis lurus yang dapat dibaca dengan mudah arahnya oleh sang wanita. Lo telah membuat dia tidak merasa penasaran dengan keajaiban dunia lo karena lo terus hadir dalam hidupnya kapan saja dia minta.

Oleh sebab itu, lo tidak perlu heran mengapa wanita yang selama ini lo dekati tiba-tiba saja bisa tertarik dan pacaran dengan pria yang lo tahu jarang menghabiskan waktu dengan wanita target lo. Saat itu terjadi, lo biasanya akan berpikir, “Kok bisa sich? Dia jadian sama cowo yang jarang keliatan, bahkan gak pernah ngebantuin dia? Yang jarang telpon nanyain kabar, ngga care and kenal luar-dalam kaya gue?”

Setelah itu, masih disusul lagi dengan pertanyaan-pertanyaan pilu yang semakin memperparah keadaaan lo, “Apa sih kekurangan gue sama dia? Dia butuh ini gue kasi, dia butuh itu gue kasi, dia minta itu gue beliin…”

Gw bisa merasakan luka goresan yang ada di hati lo bro, gw juga pernah mengalaminya. Lo mau tau rasanya? sakit bro sakit pakek banget sampek gue nangis dipojokkan dideket kain2 kotor trus ngaca dicermin trus goresin tangan gue pakek kaca kayak orang2 gitu hahaha gak gak gak itu lebay bgt, paling cuma nangis kayak gini huhuhu



Sooooo Solusinya cukup jelas, yaitu menghindari gaya Nice Guy dan perlakuan spesial seperti yang sudah dijelaskan di atas. Janganlah lo ragu untuk menolak jikalau dia meminta bantuan di saat lo sedang sibuk.

Sebagai penutup, gw akan mengutip sebuah lagu sudah sangat tidak asing. Coba baca tanpa nada bernyanyi, lo akan belajar sesuatu darinya.

Aku punya TEMAN, TEMAN SEPERMAINAN
KEMANA ada DIA selalu ada AKU

DIA anak MANIS dan juga BAIK HATI
DIA S'LALU ada WAKTU untuk MEMBANTUKU

Namun aku BINGUNG ketika dia BILANG CINTA
Dan dia juga katakan tuk ingin jadi KEKASIHKU

CUKUPLAH saja BERTEMAN denganku
JANGANLAH kau meminta LEBIH
Ku TAK MUNGKIN MENCINTAIMU kita BERTEMAN saja
TEMAN tapi MESRA

Aku memang SUKA pada dirimu NAMUN aku ADA yang PUNYA
LEBIH BAIK kita BERTEMAN kita BERTEMAN SAJA
TEMAN tapi MESRA

Well, sebenarnya jadi TTM tidak terlalu buruk, but berapa banyak sih pria yang bahkan bisa sampai ke tahap itu?

Paling juga terperangkap jadi Teman Tapi Ngarep.